Kamis, 18 Februari 2010

JERUSALEM : Kota Suci Tiga Agama Shamawi

Jerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama shamawi : Yahudi, Kristen, Islam namun dalam perjalanannya Jerusalem tidak pernah luput dari tragedi & kekerasan, konflik sekarang yang terlihat nyata adalah antara Palestina dan Israel yang entah sampai kapan akan berakhir ??
Salah satu kejadian paling mengerikan di saat terjadinya Perang Salib Pertama dimana Paus Urbanus II memerintahakan untuk melakukan perebutan kembali tanah Jerusalem yan saat itu di kuasai oleh kaum muslimin, sehingga pertumpahan darah pun tidak dapat dielakkan lagi, konon darah yang menggenang di tanah suci mencapai selutut, membuat bau anyir yang tidak pernah hilang selam enam bulan lebih ke depan.
Salah Aldin Yusuf Ibn Al Ayyubi atau biasa di panggil Saladin atau Salahuddin merupakan seorang sultan dari Mesir dan Suriah dan berusaha untuk merebut kembali tanah suci tersebut ke pangkuan muslim dan berhasil, sehingga pecahlah Perang Salib II, Sebelum akhirnya berbuntut kepada Perang Salib III melawan kesatria Kristen dari Inggris bernama Richard Si Hati Singa, perjanjian yang sulit coba ia lakukan kepada Saladin namun apadaya Jerusalem tak kunjung jatuh dan tetap berada pada genggaman Muslim hingga dipindah tangankan secara damai kepada Kekaisaran Ottoman.
Di tanah ini pulalah kisah Daud (David) Vs Goliath muncul, Daud yang merupakan dari bangsa Israel memiliki perawakan yang kecil dan terlihat lemah harus menghadapi Goliath dari bangsa Filistin yang memiliki tubuh besar, namun dengan kesungguhan hatinya Daud dapat berhasil mengalahkan Goliath dan menjadi salah satu kisah heroik kaum Yahudi sampai sekarang.
Umat Kristiani pun menjadikan tanah ini sebagai tanah suci bagi mereka, karena Yesus lahir di tanah ini, tepatnya sebelah utara Jerusalem, yaitu Bethlehem konon ia lahir di Gereja Al Mahdi atau ada menyebutnya Gereja Nativity, semasa hidupnya ia berdakwah dari satu tempat ke tempat lain, seperti Bethlehem, Nazareth dan sebelum akhirnya ia harus menerima hukuman dari Raja Pontius Pilatus dan memanggul salib dari Via Dolorosa yang merupakan kawasan Muslim menuju bukit Golgota untuk disalib
Muhammad S.A.W bin Abdullah merupakan Rasullulah kaum muslimin, beliau mendapatkan perjalanan yang menakjubkan dan penuh dengan spiritual tinggi untuk menempuh perjalanan jauh selama satu hari saja dari Masjidil Haram dan Masjidil Al Aqsha, yang berlokasi di kompleks Al Haram Al Qudsi Al Sharif, Jerusalem.
(fin/Jerusalem(tryas k)/perang salib iii(james reston jr)

Selasa, 16 Februari 2010

sejarah uang indonesia

Sejarah uang indonesia

Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri. singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.

Perkembangan selanjutnya menghadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem barter', yaitu barang yang ditukar dengan barang.

Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di antaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya. Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah benda-benda yang diterima oleh umum (generally accepted), benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang; orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam.

Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama.

Kemudian muncul apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan) uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam.

Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas.

Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan 'kertas-bukti' tersebut sebagai alat tukar.




Perkataan “rupiah” berasal dari perkataan “Rupee”, satuan mata uang India. Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610 hingga 1817. Setelah tahun 1817, dikenalkan mata uang Gulden Hindia Belanda. Mata uang rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi pada waktu Pendudukan Jepang sewaktu Perang Dunia ke-2, dengan nama rupiah Hindia Belanda. Setelah berakhirnya perang, Bank Jawa (Javaans Bank, selanjutnya menjadi Bank Indonesia) memperkenalkan mata uang rupiah jawa sebagai pengganti. Mata uang gulden NICA yang dibuat oleh Sekutu dan beberapa mata uang yang dicetak kumpulan gerilya juga berlaku pada masa itu.

Sejak 2 November 1949, empat tahun setelah merdeka, Indonesia menetapkan Rupiah sebagai mata uang kebangsaannya yang baru. Kepulauan Riau dan Irian Barat memiliki variasi rupiah mereka sendiri tetapi penggunaan mereka dibubarkan pada tahun 1964 di Riau dan 1974 di Irian Barat.
Krisis ekonomi Asia tahun 1998 menyebabkan nilai rupiah jatuh sebanyak 35% dan membawa kejatuhan pemerintahan Soeharto.
Rupiah merupakan mata uang yang boleh ditukar dengan bebas tetapi didagangkan dengan pinalti disebabkan kadar inflasi yang tinggi .
Satuan di bawah rupiah

Rupiah memiliki satuan di bawahnya. Pada masa awal kemerdekaan, rupiah disamakan nilainya dengan gulden Hindia Belanda, sehingga dipakai pula satuan-satuan yang lebih kecil yang berlaku di masa kolonial. Berikut adalah satuan-satuan yang pernah dipakai namun tidak lagi dipakai karena penurunan nilai rupiah menyebabkan satuan itu tidak bernilai penting.
• sen, seperseratus rupiah (ada koin pecahan satu dan lima sen)
• cepeng, hepeng, seperempat sen, dari feng, dipakai di kalangan Tionghoa
• peser, setengah sen
• pincang, satu setengah sen
• gobang atau benggol, dua setengah sen
• ketip/kelip/stuiver (Bld.), lima sen (ada koin pecahannya).